Kamis, 08 Maret 2018

PEMERIKSAAN ABDOMEN BUMIL



A.    Inspeksi Abdominal
Inspeksi abdominal bertujuan untuk mengetahui adanya hiperpigmentasi pada linea alba di garis tengah abdomen yang biasanya lebih hitam pada usia kehamilan 12 minggu yang kemudian disebut dengan linea grisea. Dan tidak jarang ditemui kulit perut seolah-olah retak-retak, warnanya berubah agak hiperemik dan kebiru-biruan disebut strie livide. Setelah partus, strie livide ini berubah warnanya menjadi putih disebut strie albican. Inspeksi abdominal juga bertujuan untuk melihat apakah terdapat bekas oprasi (SC) atau tidak guna penapisan awal untuk ibu dengan resiko tinggi. Serta untuk mengetahui pembesaran uterus apakah sesuai dengan umur kehamilan atau tidak.
B.     Palpasi Abdominal
Tujuan dari palpasi abdominal adalah untuk menentukan besar dan konsistensi rahim, bagian-bagian janin, letak dan presentasi, kontraksi rahim, Braxton-Hicks dan his. Cara palpasi abdominal yang lazim digunakan adalah menurut Leopold.
Pemeriksaan palpasi menurut leopold dilakukan dengan posisi ibu hamil berbaring terlentang dengan bahu dan kepala sedikit tinggi (memakai bantal). Setelah ibu hamil dalam posisi terlentang, dilihat apakah uterus berkontraksi atau tidak, jika berkontraksi harus ditunggu sampai tidak berkontraksi. Dinding perut juga harus lemas, sehingga pemeriksaan dapat dilakukan dengan teliti, untuk itu tungkai dapat ditekuk pada pangkal paha dan lutut. Suhu tangan pemeriksa hendaknya disesuaikan dengan wanita tesebut, dengan maksud supaya dinding perut ibu hamil tidak tiba-tiba berkontraksi, untuk itu sebelum palpasi kedua telapak tangan pemeriksa dapat digosokkan terlebih dahulu baru kemudia pemeriksaan dilakukan.
Pemeriksaan palpasi leopold dibagi menjadi empat tahap. Pada pemeriksaan Leopold I,II,III, pemeriksa menghadap ke arah muka ibu yang diperiksa dan pada pemeriksaan Leopold IV pemeriksa menghadap ke arah kaki ibu.
Tujuan dari pemeriksaan Leopold I adalah untuk menentukan tinggi fundus uteri untuk menentukan umur kehamialan. Selain itu, dapat juga ditentukan bagian janin mana yang terletak pada fundus uteri.
Pada pemeriksaan Leopold II, ditentukan batas samping uterus, dapat pula ditentukan letak punggung janin yang membujur dari atas ke bawah menghubungkan bokong dengan kepala.
Pada Leopold III, ditentukan bagian apa yang berada di sebelah bawah. Dan pada Leopold IV, selain menentukan bagian janin mana yang terletak dibawah, juga dapat menentukan bagian berapa bagian dari kepala janin yang telah masuk dalam pintu atas panggul. Dari letak janin ini dapat didengarkan bunyi jantung janin di tempat tertentu, disesuaikan dengan sikap janin. Pada sikap defleksi bunyi jantung janin terletak pada tempat bagian-bagian kecil janin berada. Dengan pemeriksaan singkat tersebut, dapat diketahui: tinggi fundus uteri, letak janin, apakah bagian terendah janin sudah masuk pintu atas panggul, letak punggung janin, bunyi jantung janin.
Teknik pelaksanaan palpasi abdominal adalah sebagai berikut:
1.      Jelaskan maksud dan tujuan serta cara pemeriksaan palpasi yang akan saudara lakukan pada ibu.
2.      Ibu dipersilahkan berbaring terlentang dengan sendi lutut semi fleksi untuk mengurangi kontraksi otot dinding abdomen.
3.      Leopold I s/d III, pemeriksa melakukan pemeriksaan dengan berdiri disamping kanan ibu dengan menghadap kearah muka ibu ; pada pemeriksaan Leopold IV, pemeriksa berbalik arah sehingga menghadap ke kaki ibu.
Leopold I
·         Kedua telapak tangan pemeriksa diletakan pada puncak fundus uteri.
·         Tentukan tinggi fundus uteri untuk menentukan usia kehamilan.
·         Rasakan bagian janin yang berada pada bagian fundus (bokong atau kepala atau kosong).
Leopold II
·         Kedua telapak tangan pemeriksa bergeser turun kebawah sampai disamping kiri dan kanan umbilikus.
·         Tentukan bagian punggung janin untuk menentukan lokasi auskultasi denyut jantung janin nantinya.
·         Tentukan bagian-bagian kecil janin.
Leopold III
·         Pemeriksaan ini dilakukan dengan hati-hati oleh karena dapat menyebabkan perasaan tak nyaman bagi pasien.
·         Bagian terendah janin dicekap diantara ibu jari dan telunjuk tangan kanan.
·         Ditentukan apa yang menjadi bagian terendah janin dan ditentukan apakah sudah mengalami enggagement atau belum.
Leopold IV
·         Pemeriksa mengubah posisinya sehingga menghadap ke arah kiri pasien.
·         Kedua telapak tangan ditempatkan disisi kiri dan kanan bagian terendah janin.
·         Digunakan untuk menentukan sampai berapa jauh derajat desensus janin.

C.    Auskultasi
Auskultasi pada pemeriksaan abdomen ibu hamil dilakukan untuk mengetahui denyut jantung janin. Denyut jantung janin dapat didengarkan dengan menggunakan alat fetal electro cardiograph (Doppler) pada usia kehamilan 12 minggu. Dan dapat didengarkan menggunakan stetoskop Laennec pada usia kehamilan 18-20 minggu. Denyut jantung janin dikatakan normal bila berkisar antara 120-160x/menit, dan dikatakan takikardi bila lebih dari 160x/menit dan brakikardi bila kurang dari 120x/menit dan ini merupakan tanda bayi  mengalami fetal distress. Ketika partus sebaiknya didengar satu menit denyutan permenit. Cara menghitungdenyut jantung janin dalam 5 detik pertama,kemudian 5 detik ketiga,kelima, kemudian hasil dijumlahkan dan dikalikan 4 untuk mendapatkan hasil perhitungan denyut jantung selama satu menit. Dengan cara ini dapat diperoleh kesan apakah denyut jantung janin tersebut teratur atau tidak. Teknik pelaksanaan auskultasi adalah sebagai berikut :
1.      Auskultasi detik jantung janin dengan menggunakan feteskop de Lee.
2.      Detik jantung janin terdengar paling keras didaerah punggung janin.
3.      Detik jantung janin dihitung selama 5 detik dilakukan 3 kali berurutan selang 5 detik sebanyak 3 kali.
4.      Hasil pemeriksaan detik jantung janin 10-12-10 berarti frekuensi detik jantung janin 32x4 = 128 kali per menit.
5.      Frekuensi detik jantung janin nornal 120-160 kali per menit

CARA MELAKUKAN PEMERIKSAAN ABDOMEN PADA IBU HAMIL

    III.            DASAR TEORI
                        I.            Pemeriksaan abdomen
Selama melakukan pemeriksaan abdomen harus selalu menjaga privacy klen serta memperhatikan reaksi pasien. Pasien dipersilahkan untuk tidur dengan posisi talentang. Dilihat apakah uterus berkontraksi/tidak? Jika berkontraksi ditunggu dulu. Suhu tangan pemeriksa hendaknya disesuaikan dengan suhu tubuh pasien, supaya tidak terjadi kontraksi. Untuk itu sebelum melakukan palpasi, kedua telapak tangan dapat digosok-gosokkan terlebih dahulu baru keumdian melakukan pemeriksaa. Dikenal ada beberapa cara palpasi antara lain Leopold, Ahfeld, Budin,dan Knebel. Tetapi yang dikenal adalah palapsi  menurut leopold karena sudah hampir mencakup smua. Ada beberapa cara melakukan pemeriksaan abdomen ibu hamil antara lain :
A.      Mengukur tinggi fundus uteri (TFU)
Pengukuran TFU dapat digunakan untuk memperkirakan usia kehamilan. Pengukuran TFU dapatdibantu mengidentifikasi fakto-faktor resiko tinggi. Tinggi fundus yang stabil atau menurun dapat mengidentifikasi retardasi pertumbuhan intera uterin, peningkatan yang berlebihan dapat menunjukkan adanya kehamilan kembar atau hidramnion. Dengan TFU dapat digunakan dapat untuk memperkirakan usia kehamilan dan taksiran berat janin. Ada beberapa cara pemeriksaan TFU diantaranya :
1)      Secara tradisional perkiraan tinggi fundus dilakukan dengan palpasi fundus dan membandingkannya dengan beberapa patokan antara lain simfisis pubis, umbilikus atau prossus xifodeus. Menentukan TFU dengan mengkombinasikan hasil pengukuran dari memperkirakan dimana TFU berada pada setiap minggu kehamlan dihubungkan dengan simfisis pubis wanita, umbilikus dan ujung dari prosesus xifoid dan menggunakan leba jari pemeriksa sebagai alat ukur. Ketidakakuratan metode ini seperti :
a.      Wanita befariasi pada jarak simfisis pubis ke prosesus sifoid, lokasi umbilikus diantara 2 titk ini.
b.      Lebar jari pemeriksa berfariasi antara yang gemuk dan yang kurus. Adapun keuntungan metode ini :
      Digunakan jika tidak ada caliper atau pita pengukur.
      Jari cukup akurat  untuk menentukan perbedaan yang jelas antara perkiraan umur kehamilan dengan tanggal dan dengan temuan hasil pemeriksaan  serta untuk mengindikasikan perlunya pemeriksaan lebih lanjut jika ditemukan tidak kesesuaian dan sebab kelainan tersebut.
Adapun hasil pemeriksaan TFU.
v  12 mgg 3 jari diatas simfisis
v  16 mgg per1/2an pusat-symphisis
v  20 mgg 3 jari dibawah pusat
v  24 mgg setinggi pusat
v  28 mgg 3 jari diatas pusat= 25 cm
v  32 mgg per1/2an pusat-px =27 cm
v  36 mgg 1 jari dibawah px = 30 cm
v  40 mgg 3 jari dibawa px

                                II.   Menggunakan metlyn/ pita ukur
v  Diukur dengan cara buta ( metlyn dalam keadaan terbalik )
v  TFU diukur melalui tepi atas simphisis pubis kemudian rentangkan pita ukur hingga puncak fundud mengikuti linea medialis dindingabdomen ibu. Leher pita harus menemplnpada dinding abdomen ibu.
v  Hasil pengukuran dibaca melaui skala cm.
v  Menggunakan pita pengukur yang meruakan salah satu mtodeakurat dalam pengukuran TFU setelah 22-24 mgg kehamilan. 
B..PALPASI LEOPOLD
Pada saat melakukan pemeriksaan leopold kaki klien ditekuk agar dinding perut lebih lema. Pada pemeriksaan leopold 1 s.d leopold 3, pemeriksa menghadap kearah pasien. Sedangkan pada leopold 4 menghadan kearah kaki klien.
a)      Leopold   I
v  Tujuan : untuk mengetahui TFU serta menentukan bagian janin mana yang terletak dibagian fundus.
v  Teknik : uterus dibawah ketengah , kemudian itentukan  TFU dengan telapaktangan  pada fundus uteri,  kemudian menentukan bagian apa yang terletak  dibagian fundus uteri. Pada letak lintang , bagian fundus teraba  kosong dan tidak teraba bagian-bagian janin., sedangkan letak membujur  sungsang pada fundus teraba kepala ( bulat, keras ,dan melintang ). Jika letak kepala , bagian fundus teraba bokong (kurang bulat, lunak, kurang melenting).
b)      Leopold II
v  Tujuan : Untuk menentukan batas samping rahim kanan dan kiri kemudian menentukan letak punggung janin, padaletak lintang dimana kepala janin.
v  Teknik :  Posisimasih sama, kedua tangan menelusuri tepi uterus untuk menentukan bagian apa yang terletak dibagian samping. Jika punggung teraba bagian rata (sisi bagian besar) , biasanya letak bertentangan bagian-bagian kecil janin (ekstremitas janin ). Pda letak lintang teraba bagian kepala pada bagia kanan/kiri ibu.
c)      Leopold III
v  Tujuan : untuk menentukan bagian terbawah janin serta menentukan apakah bagian bawah janin sudah masuk panggul atau belum.
v  Teknik :  satu tangan meraba bagian janin yang terletak diatas simphisis, sementara tangan yang satu  menahan fundus untuk fiksasi. Pada letak lintang siatas simphisis teraba kososng.
d)      Leopold IV
v  Tujuan : untuk menentukan bagian terbawah janin dan berapa jauh janin sudah masuknpintu atas anggul.
v  Teknik :  kaki pasien diluruskan, pemeriksa menghadap kearahkakipasien .Dengan kedua tangan ditentukan apa yang terdapat dibagian bawah Menentukan apakah bagin bawah sudah masuk kedalam PAP  dan berapamasuknya bagian bawah kedalam rongga panggul. Jika kedua tangan  konfergen berartikepala blum masuk PAP, sedangkan tangn ika divergent maka kepala sudah masuk PAP. Leopold IV tidak dilakukan jika kepala masih tinggi, leopold IV dilakukan setelah usia kehamilan kurang lebih 6 bulan.

C.Beberapa pemeriksaan palpasi abdomen selain leopold
1.      Pemeriksaan buddin : di pergunakan pada letak membujur , untuk lebiih menetapkan dmana punggung janin. Teknik yang dilakukan fundusuteri didorong kebawah , badan janin akan melengkung sehinggabpunggung mudah ditetapkan.
2.      Pemeriksaan knebel :  janindengan letak membujur didorong kesalah satu sisi sehingga janinengisi ruangan  yang terbtas, dengan mendorong janin kesalah satu arah, punggungebih mudah untuk ditentukan.
3.      Pemeriksaan menurut ahfeld : pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan leopold III.dengan mengetahui TFU maka dapat diketahui perkiraan usia janin dan taksiran berat janin (TBJ). Menghitung TBJ dapat menggunakan rumus johnson tausak :
                                              TBJ=( mD-12/11) X 155
                                              mD =TFU

D.  Pemeriksaan denyut jantung janin
a.      Kaki ibu diluruskan sehingga punggung janin lebih dekat dengan dinding perut ibu
b.      Menentukan punctum maksimum
c.       Jika presentasi kepala maka DJJ terdengar disebelah kiri/ kanan dibawah pusat. Kalau presentasi bokong DJJ terdengar disebelah kiri/ksnsn diatas pusat. DJJ terdengar lebih jelas disebelah punggung janin, DJJ terdengar disebelah kanan dan sebaliknya. Pada gimeli terdengar DJJ pada 2 tempat yang sama jelasnya dengan frekuensi yang berbeda ( perbedaan lebh dari 10x/menit)
d.      Saat menghitung DJJ sambil memegang nadi ibu untuk membedakan suara aorta ibu/DJJ.
e.      DJJ dihitung selama satu menit penuh.
f.        Selain menghitung frekuensi DJJ, keteraturan DJJ juga harus diperhatikan.
g.      Kalau DJJ < 120 /mnt atau > 160x/mnt atau tidak teratur maka janin dalam keadaan asphyksia.


1.     Instruksikan ibu hamil untuk mengosongkan kandung kemihnya
2.     Menempatkan ibu hamil dalam posisi berbaring telentang, tempatkan bantal kecil di bawah kepala untuk kenyamanan
3.     Menjaga privasi
4.     Menjelaskan prosedur pemeriksaan
5.     Menghangatkan tangan dengan menggosok bersama-sama (tangan dingin dapat merangsang kontraksi rahim)
6.     Gunakan telapak tangan untuk palpasi bukan jari.
Gambar 1: Pemeriksaan Palpasi Leopold 1 s.d. 4
A. Pemeriksaan Leopold I
Tujuan: untuk menentukan usia kehamilan dan juga untuk mengetahui bagian janin apa yang terdapat di fundus uteri (bagian atas perut ibu).

Gambar 2: Palpasi Leopold 1
Teknik:
·         Memposisikan ibu dengan lutut fleksi (kaki ditekuk 45atau lutut bagian dalam diganjal bantal) dan pemeriksa menghadap ke arah ibu
·         Menengahkan uterus dengan menggunakan kedua tangan dari arah samping umbilical
·         Kedua tangan meraba fundus kemudian menentukan TFU
·         Meraba bagian Fundus dengan menggunakan ujung kedua tangan, tentukan bagian janin.
Hasil:
·         Apabila kepala janin teraba di bagian fundus, yang akan teraba adalah keras,bundar dan melenting (seperti mudah digerakkan)
·         Apabila bokong janin teraba di bagian fundus, yang akan terasa adalah lunak, kurang bundar, dan kurang melenting
·         Apabila posisi janin melintang pada rahim, maka pada Fundus teraba kosong.
B. Pemeriksaan Leopold II
Tujuan: untuk menentukan bagian janin yang berada pada kedua sisi uterus, pada letak lintang tentukan di mana kepala janin.
Gambar 3: Palpasi Leopold 2
Teknik:
·         Posisi ibu masih dengan lutut fleksi (kaki ditekuk) dan pemeriksa menghadap ibu
·         Meletakkan telapak tangan kiri pada dinding perut lateral kanan dan telapak tangan kanan pada dinding perut lateral kiri ibu secara sejajar dan pada ketinggian yang sama
·         Mulai dari bagian atas tekan secara bergantian atau bersamaan (simultan) telapak tangan tangan kiri dan kanan kemudian geser ke arah bawah dan rasakan adanya bagian yang rata dan memanjang (punggung) atau bagian-bagian kecil (ekstremitas).
Hasil:
·         Bagian punggung: akan teraba jelas, rata, cembung, kaku/tidak dapat digerakkan
·         Bagian-bagian kecil (tangan dan kaki): akan teraba kecil, bentuk/posisi tidak jelas dan menonjol, kemungkinan teraba gerakan kaki janin secara aktif maupun pasif.
C. Pemeriksaan Leopold III
Tujuan: untuk menentukan bagian janin apa (kepala atau bokong) yang terdapat di bagian bawah perut ibu, serta apakah bagian janin tersebut sudah memasuki pintu atas panggul (PAP).
Gambar 4: Palpasi Leopold 3
Teknik:
·         Posisi ibu masih dengan lutut fleksi (kaki ditekuk) dan pemeriksa menghadap ibu
·         Meletakkan ujung telapak tangan kiri pada dinding lateral kiri bawah, telapak tangan kanan bawah perut ibu
·         Menekan secara lembut dan bersamaan/bergantian untuk mentukan bagian terbawah bayi
·         Gunakan tangan kanan dengan ibu jari dan keempat jari lainnya kemudian goyang bagian terbawah janin.
Hasil:
·         Bagian keras,bulat dan hampir homogen adalah kepala sedangkan tonjolan yang lunak dan kurang simetris adalah bokong
·         Apabila bagian terbawah janin sudah memasuki PAP, maka saat bagian bawah digoyang, sudah tidak bias (seperti ada tahanan).
D. Pemeriksaan Leopold IV
Tujuan: untuk mengkonfirmasi ulang bagian janin apa yang terdapat di bagian bawah perut ibu, serta untuk mengetahui seberapa jauh bagian bawah janin telah memasuki pintu atas panggul.
Gambar 5: Palpasi Leopold 4
Teknik:
·         Pemeriksa menghadap ke arah kaki ibu, dengan posisi kaki ibu lurus
·         Meletakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada lateral kiri dan kanan uterus bawah, ujung-ujung jari tangan kiri dan kanan berada pada tepi atas simfisis
·         Menemukan kedua ibu jari kiri dan kanan kemudian rapatkan semua jari-jari tangan yang meraba dinding bawah uterus.
·         Perhatikan sudut yang terbentuk oleh jari-jari: bertemu (konvergen) atau tidak bertemu (divergen)
·         Setelah itu memindahkan ibu jari dan telunjuk tangan kiri pada bagian terbawah bayi (bila presentasi kepala upayakan memegang  bagian kepala di dekat leher dan bila presentasi bokong upayakan untuk memegang pinggang bayi)
·         Memfiksasi bagian tersebut ke arah pintu atas panggul kemudian meletakkan jari-jari tangan kanan diantara tangan kiri dan simfisis untuk menilai seberapa jauh bagian terbawah telah memasuki pintu atas panggul.
Hasil:
·         Apabila kedua jari-jari tangan pemeriksa bertemu (konvergen) berarti bagian terendah janin belum memasuki pintu atas panggul, sedangkan apabila kedua tangan pemeriksa membentuk jarak atau tidak bertemu (divergen) mka bagian terendah janin sudah memasuki Pintu Atas Panggul (PAP)
·         Penurunan kepala dinilai dengan: 5/5 (seluruh bagian jari masih meraba kepala, kepala belum masuk PAP), 1/5 (teraba kepala 1 jari dari lima jari, bagian kepala yang sudah masuk 4 bagian), dan seterusnya sampai 0/5 (seluruh kepala sudah masuk PAP)
Menentukan usia kehamilan :



Gambar 6-7: Gambaran Tinggi Fundus Uteri (TFU) Dikonversikan dengan Usia Kehamilan (UK)
Keterangan:
·         Pada usia kehamilan 12 minggu, fundus dapat teraba 1-2 jari di atas simpisis
·         Pada usia kehamilan 16 minggu, fundus dapat teraba di antara simpisis dan pusat
·         Pada usia kehamilan 20 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di bawah pusat
·         Pada usia kehamilan 24 minggu, fundus dapat teraba tepat di pusat
·         Pada usia kehamilan 28 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di atas pusat
·         Pada usia kehamilan 32 minggu, fundus dapat teraba di pertengahan antara Prosesus Xipoideus dan pusat
·         Pada usia kehamilan 36 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di bawah Prosesus Xipoideus
·         Pada usia kehamilan 40 minggu, fundus dapat teraba di pertengahan antara Prosesus Xipoideus dan pusat. (Lakukan konfirmasi dengan wawancara dengan pasien untuk membedakan dengan usia kehamilan 32 minggu)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

puisi pancasila tetap abadi

[PUISI] Pancasila Tetap Abadi Sudah cukup banyak nyawa yang kita korbankan Sudah cukup banyak tangis yang kita dengarkan Sudah ...