ROUTING
1.
BFD
BFD adalah salah satu fitur yang ada
pada router CISCO yang bisa digunakan untuk mendeteksi adanya masalah pada
suatu link yang ada pada suatu jaringan.
Pada umumnya, pada suatu network,
banyak sekali packet data yang melewati suatu link, terus, untuk mengetahui
terjadinya problem pada suatu link, router akan mengirimkan suatu failure
detection yang berguna untuk mengetahui tentang itu. Tapi ada permasalahan
dikarenakan hal itu. Kenapa? karena semakin sering dan semakin banyak router
mengirimkan failure detection packet data, maka akan semakin tinggi pula
traffic yang terjadi pada suatu link. Dan ini tentunya menyebabkan link atau
network semakin terbebani. Dikarenakan network menggunakan cara seperti ini
untuk mengetahui tentang failure yang terjadi pada suatu network.
1.
Hello
message dari routing protocol yang digunakan , tapi ini mempunyai beberapa
kelemahan dikarenakan hello packet tidak mempunya intervel yang pendek, dan ini
pula yang menyebabkan proses deteksi terhadap failure yang terjadi pada link
semakin lama.
2.
Kemampuan
transmisi device yang digunakan untuk mengetahui failure link.
Sehingga perlunya untuk menggunakan BFD
pada device yang berguna untuk menyelesaikan dilema diatas. Keuntungan kita
menggunakan BFD adalah dikarenakan beberapa kelebihan yang ada pada feature
ini, seperti di bawah ini
1.
BFD
packet data mempunyai ukuran yang sangat kecil, jadi apa keuntungannya kalo
ukuran pcket data ini kecil?. Ini tak akan memenuhi traffic yang ada pada suatu
link walapun dikirimkan untuk interval yang sangat pendek.
2.
Ini
berdiri sendiri, tidak termasuk dalam suatu routing protocol. Jadi tidak akan
berpengaruh walaupun terjadi masalah dengan routing protocolnya.
3.
BFD
mempunya interval waktu yang sangat pendek. ukuran waktunya dalam skala
miliseconds. Semakin sering packet detection ini dikirimkan, maka proses
deteksi pada failure link akan semakin valid dalam waktu yang sangat
singkat
Bisa kita lihat pada gambar di bawah ini untuk mengetahuinya
Disini kita akan menggunakan wireshark untuk mengetahuinya. untuk mengintip packet apa saja sih yang melewati pada suatu link?. Berapa sih interval suatu packet data dikirimkan, dan disini kita akan mengeahuinya.
Pada gambar di atas bisa kita lihat kalo pada BFD packet data, packet data dikirimkan dalam interval yang sangat pendek, dalam satu detik ada beberapa packet data yang dikirimkan, ini tergantung dari konfigurasi kita pada router. Tentunya dengan ini proses failure detection akan semakin cepat.
Untuk melihat apa saja sih informasi yang dibawa masing - masing dari packet data antar keduanya bisa kita bandingkan dengan gambar di bawah ini
Configuration
Setelah itu kita konsol kedua - duanya
Sebelum kita memasuki konfigurasi,
perlu sepertinya untuk mengetahui tentang step - step dalam pengkonfigurasian
BFD pada device.
1.
Konfigurasi
BFDSession Parameter pada interface
2.
Konfigurasi
BFD Support pada routing protocol
3.
Konfigurasi
BFD Echo Mode
2.BGP
merupakan salah satu jenis routing
protokol yang digunakan untuk koneksi antar Autonomous System (AS), dan salah
satu jenis routing protokol yang banyak digunakan di ISP besar (Telkomsel)
ataupun perbankan. BGP termasuk dalam kategori routing protokol jenis Exterior
Gateway Protokol (EGP).
3.FITERS
Merupakan
istilah untuk menyaring email- e-mail yang masuk. E-mail yang masuk ke mailbox
Anda terkadang perlu untuk disaring agar dapat dibaca dengan lebih nyaman.
Biasanya e-mail-e-mail yang disaring adalah e-mail-e-mail sampah seperti e-mail
promosi, e-mail porno, e-mail penipuan, dan banyak lagi. Penyaringan ini
biasanya dilakukan oleh program mail client, atau jika penyedia jasa memiliki
fasilitas tersebut bisa juga filtering dilakukan di jaringan mereka. Tujuannya
adalah agar link Internet Anda tidak dipenuhi dengan email- e-mail sampah. ||
filters : Penyaring email yang masuk.
4.MME
MME (Mesh Made Easy)
adalah protokol routing yang terdapat pada Mikrotik. Dan biasanya digunakan
untuk routing dalam jaringan wireless mesh. Penambahan protokol MME pada
Mikrotik didasarkan pada metode B.A.T.M.A.N (Better Approach To Mobile Ad-hoc
Networking). MME bekerja dengan cara mengririmkan pesan broadcast yang disebut
sebagai pesan Originator. Pesan ini berisi informasi routing berupa ip
address router pengirim pesan (originator) dan daftar prefix network yang ada
didalam jaringan mesh.
DS (Distribution
System)
Sistem DS dibangun
dengan cara mengkoneksikan antara router dengan access point melalui media
kabel. Metode ini merupakan metode yang cukup rekomended ketika interkoneksi
antara router dengan access point memang masih bisa dicover menggunakan kabel.
Kualitas data dan kecepatan data tidak bergantung pada link wireless antar
access point.
WDS (Wireless
Distribution System)
Kebanyakan orang menyebutnya sebagai
repeater. Implementasi WDS memang biasanya digunakan untuk expansi cover area
wireless tanpa membutuhkan kabel seperti pada system DS. Signal dari access
point pertama, bisa diteruskan dan dipancarkan ulang oleh access poiunt kedua,
dan seterusnya.
Topologi WDS secara
sederhananya bisa kita lihat pada gambar diatas, namun pada penerapannya bisa
saja topologi akan menjadi lebih kompleks atau bahkan merupakan kombinasi
dengan Mesh. Namun secara prinsip kerja, WDS biasanya dikombinasikan dengan
bridge. Dengan topologi yang kompleks seperti WDS bridge bisa dipastikan
terjadi looping. Itu sebabnya WDS sangat bergantung pada fitur RSTP untuk
menghindari terjadinya looping dan akan menentukan sebuah jalur utama yang akan
dilewati oleh trafik data, link yang lain akan didisable dan tidak digunakan,
artinya hanya akan ada satu jalur yang digunakan.
MESH
Ada banyak metode
untuk membangun jaringan mesh. Opsi yang pertama, masing - masing access point
terkoneksi secara langsung dengan router, hampir sama dengan sistem DS
(Dustribution System) namun dengan menjadikan wireless dalam jaringan mesh
sehingga menjadi jaringan wireless yang bersifat roaming dan redudant. ketika
ada salah satu aacess point yang offline, jalur koneksi bisa dilewatkan melalui
access point yang masih online.
Opsi yang kedua
menggunakan perangkat wireless dengan 2 interface wireless. Satu interface
wireless sebagai backhaul terkoneksi ke access point lain, dan interface
wireless yang kedua digunakan sebagai access point untuk client. biasanya untuk
interkoneksi backhaul menggunakan frekuensi 5GHz, dan untuk access point bagi
user menggunakan frekuensi 2,4 Ghz.
4.MME (Mesh Made
Easy)
MME adalah salah satu
protocol routing yang termasuk IGRP (Interior Gateway Routing Protocol) yang
memang di desain untuk network yang bersifat MESH, dan sangat cocok untuk
jaringan wireless. MME (Mesh Made Easy) merupakan protocol yang ada di
mikrotik untuk mendistribusikan routing IP di jaringan Wireless Mesh.
Cara kerja MME adalah
melakukan broadcast "Originator Message” secara periodik ke semua node
yang terkoneksi. Originator Message berisi informasi routing dari router asal
(Router Originator) dan juga bisa ditambahkan dengan prefix routing tertentu
jika ada advertise. Jika sebuah node menerima Originator message yang belum
pernah diterima sebelumnya, maka node (Router wireless) tersebut akan melakukan
re-broadcast ke node yang lain.
Ketika ada perubahan topology, akan memicu perubahan semua
tabel routing di semua node. Untuk embeded system seperti routerboard,
perubahan routing secara dramatis akan memakan banyak resource CPU. Untuk
mencegah hal tersebut maka MME akan menjalankan langkah berikut :
- Hanya akan merespon perubahan
single-hop neighbour dari jalur routing ke tujuan ip tertentu
- Menghindari adanya kalkulasi tabel
routing
MESH Mikrotik dengan
MME
Untuk topologi
jaringan yang akan kita bangun sama dengan topologi DS (Distribution System)
dimana masing -masing access point terkoneksi langsung ke router menggunakan
media kabel. Selanjutnya kita akan coba implementasikan fitur MESH MME pada
topologi ini. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah setting wireless
interface Mikrotik sebagai access point standart untuk topologi
point-to-multipoint, dengan mode ap-bridge dan seterusnya, detail implementasi bisa
dilihat disini. Jika masing - masing access point
sudah berjalan, selanjutnya kita akan mulai konfigurasi mesh dengan membuat
interface mesh di Mikrotik melalui menu "Mesh".
Cukup isikan
parameter 'name' untuk memberi nama interface mesh, kemudian klik OK.
Selanjutnya tambahkan interface wlan kedalam port Mesh, dengan cara masuk ke
menu Mesh, kemudian klik Tab Port. Tambahkan port baru dengan interface wlan1
misalnya.
Agar masing - masing
access point bisa saling interkoneksi dan mampu bersifat redundant, kita akan
mengkombinasikan interface Mesh dengan routing MME yang memang didesign untuk
jaringan mesh. Fitur MME MikroTik bisa diakses melalui menu Routing -->
MME. Disisi router yang digunakan sebagai gateway, di menu "MME
Settings" silahkan set parameter gateway Class dengan opsi >6-Mbit. dan
parameter lainnya dibiarkan default.
Full WDS MESH di
Mikrotik
Kita akan coba membangun jaringan
wireless roaming di Mikrotik dengan menggunakan fitur Mesh, WDS, dan MME.
Mengapa membutuhkan WDS ?, interkoneksi antar access point akan kita bangun
menggunakan wireless, bukan menggunakan kabel, sedikit berbeda dengan contoh
sebelumnya yang mengimplementasikan MESH melalui kabel. Secara konfigurasi
interface Mesh dan MME hampir sama, yang sedikit berbeda adalah konfigurasi
interface wireless.
Access Point
Setelah setting
interface mesh dan MME seperti pada topologi DS, sisisi access point setting
wlan dengan mode AP bridge dan setting standart lannya.
Setelah setting
access point, jangan lupa setting MESH seperti pada langkah membangun mesh pada
topologi DS. Buat interface Mesh baru dengan port interface wlan1 misalnya.
Selanjutnya masuk ke
Tab WDS pada properties wireless. Pilih parameter "WDS Mode" dengan
opsi "WDS Mesh. Pada parameter "WDS Default Bridge", pilih
interface Mesh yang sudah dibuat sebelumnya.
Langkah terakhir,
tambahkan routing MME untuk menjadikan jaringan wireless menjadi Full WDS MESH.
Misalkan disisi access point yang akan kita jadikan sebagai gateway utama.
Repeater
Setting disisi repeater juga hampir
sama dengans setting access point sebelumnya. Hanya saja untuk repeater,
interface wireless menggunakan mode "WDS Slave".
Jangan lupa buat
interface mesh dengan port wlan1, sama seperti access point. Kemudian buat routing
MME. Sedikit berbeda dengan access point sebelumnya, disini kita tidak perlu
menentukan gateway-class, cukup kita tentikan gateway-selection.
Langkah setting sudah
selesai, coba cek di menu routing, akan muncul rule routing bari dengan flag
DAm (Dynamic, Active, MME). Untuk melakukan testing wireless roaming, Anda bisa
coba ping sambil berpindah - pindah lokasi.
5.OSPF
OSPF juga merupakan routing protokol yang
berstandar terbuka. Maksudnya adalah routing protokol ini bukan ciptaan dari
vendor manapun. Dengan demikian, siapapun dapat menggunakannya, perangkat
manapun dapat kompatibel dengannya, dan di manapun routing protokol ini dapat
diimplementasikan. OSPF merupakan routing protokol yang menggunakan
konsep hirarki routing, artinya OSPF membagi-bagi jaringan menjadi beberapa
tingkatan. Tingkatan-tingkatan ini diwujudkan dengan menggunakan sistem
pengelompokan area.
|
|
6.PREFIX LISTS
Filtering using
Prefix-List
Contoh, dari route
rip yang di advertise Juniper, kita hanya pengen network yang depannya 2.1.X.X
untuk di kasi ke Cisco
Penjelasan:
- Kita create prefix-list untuk
network yang kita mau filter dengan namanya “ONLY”
(nama bebas sebenernya)
- Trus kita bikin statement
bahwa prefix2 tersebut di-accept (diterima) dengan nama “ACCEPT” (again…nama bebas)
- Keyword “orlonger” kita bahas dibawah nanti
- Statement yang kita buat tadi lalu
kita masukkan ke policy punya RIP dengan keyword “term
EXPORT policy ACCEPT“
Nah, kita masukin ini
policy RIP ke konfigurasi RIP itu sendiri
We’ll see…in Cisco
===========================================
Filtering using
Route-Filter
Note: untuk filtering
pake prefix-list ato route-filter sebenernya bisa langsung sih, ga usa pake
policy segala (tapi lebih rapih klo pake policy)
Contoh, kita bisa
bikin langsung kek gini:
Set
policy-options policy-statement EXPORT-RIP term EXPORT from route-filter
2.3.0.0/16 (langsung ke
EXPORT-RIP-nya, tanpa harus di pasang ke policy route-filter tersendiri yaitu
ke DO-NOT-ADVERTISE)
Nyok kita liat di
Cisco
==============================
FILTERING TERMS
Ini yang tadi mau gw
bahas…apa itu longer, orlonger, dll
Jadi dalam Juniper
Filtering ada optional condition yang kita bisa pilih untuk filtering route
Apa aja itu:
- Exact: filtering exact prefix (“from route-filter 10.1.1.1/24 exact“, yang di
filter ya network itu aja)
- Orlonger: filtering network itu dan yang
lebih besar mask-nya (“from route-filter
10.1.1.1/24 orlonger“, yang di filter ya 10.1.1.1/24../25../26 dst)
- Longer: filtering network yang lebih
besar dari network yang sudah disebutkan (jadi /24-nya mah kaga ke filter)
- Upto: ini kek range prefix (“from route-filter 10.1.1.1/24 upto /27“)
- Prefix-length-range: lebih spesifik daripada upto (“from route-filter 10.1.1.1/24 prefix-length-range
/27-/29“)
- Through: gabungan orlonger dan upto (“from route-filter 10.1.1.1/24 through 10.2.2.0/25“)
RIP
Routing Information
Protocol (RIP) adalah
sebuah protokol routing dinamis yang digunakan dalam jaringan LAN (Local Area
Network) dan WAN (Wide Area Network). Oleh karena itu protokol ini
diklasifikasikan sebagai Interior Gateway Protocol (IGP). Protokol ini menggunakan algoritma Distance-Vector Routing. Pertama kali didefinisikan dalam RFC 1058 (1988). Protokol ini telah dikembangkan beberapa
kali, sehingga terciptalah RIP Versi 2 (RFC
2453). Kedua versi
ini masih digunakan sampai sekarang, meskipun begitu secara teknis mereka telah
dianggap usang oleh teknik-teknik yang lebih maju, seperti Open Shortest Path First (OSPF) dan protokol OSI IS-IS. RIP juga telah diadaptasi untuk digunakan
dalam jaringan IPv6, yang dikenal sebagai standar RIPng (RIP Next
Generation / RIP generasi berikutnya), yang diterbitkan dalam RFC 2080 (1997).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar