MAKALAH PERUBAHAN POLA NAFAS
“ORTOPNEA”
Disusun
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keterampilan
Dasar Kebidanan Lanjut
Oleh :
Kelompok 1
Kebidanan A.14.2
Dewi Nurinda 17150047
Irnawati 17150061
Ni Made Dwi Ruliana 17150049
Wijianti 17150064
Gita tilana 17150059
Rossalindah kondo 171500
Denil Shintiya 17150078
PROGRAM STUDI D-3 KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI
YOGYAKARTA
TAHUN AJARAN
20017/2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmatnya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami
juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya. Dan
harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.Karena keterbatasan pengetahuan maupun
pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh
karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Yogyakarta,18 Maret
2018
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar…………………………………………………………………i
Daftar
Isi……………………………………………………………………….ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang………………………………………………….….……...4
1.2
Tujuan
penulisan..........................................................................................4
1.3 Manfaat penulisan….....……………………………………………….......4
BAB
II PEMBAHASAN
2.1.
perubahan pola pernapasan ortopnea..........................................................5
2.2.
penyebab pernapasan ortopnea...................................................................5
2.4.
Faktor yang mempengaruhi pernapasan ....................................................6
BAB
III PENUTUP
3.1
Daftar Pustaka………………………………………………………….....7
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Awalnya, sesak napas hanya terasa selama seseorang melakukan kegiatan fisik
yang berat, seperti olahraga karena pada saat itu tubuh membutuhkan lebih
banyak oksigen sehingga jantung harus berdenyut lebih cepat. Sementara jantung
yang lemah tidak bisa melakukannya.
Tahap selanjutnya, sesak napas terasa bahkan pada saat beristirahat. Salah
satunya pada saat tubuh berbaring mendatar. Inilah yang kemudian dikenal
sebagai ortopnea.
Berasal dari bahasa Yunani, yaitu orto yang artinya lurus, dan pneuma yang
artinya napas, ortopnea pada umumnya terjadi dikarenakan adanya perubahan gaya
gravitasi ketika pasien mengambil posisi dari duduk menjadi berbaring/datar.
Posisi ini menyebabkan meningkatnya aliran darah ke sirkulasi paru serta
menurunnya jumlah udara yang dapat dikeluarkan dari paru-paru (kapasitas
vital).
1.2
Tujuan penulisan
Untuk mengetahui pada perubahan pola pernapasan ortopnea
1.3
Manfaat penulisan
Agar pembaca dapat mengetahui bagaimana perubahan pola
pernapasan ortopnea.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
perubahan pola
pernapasan ortopnea
Ortopnea adalah ketidakmampuan untuk bernapas kecuali
dalam posisi tegak atau berdiri. Kesulitan atau ketidaknyamanan
pernapasan disebut dispnea. Orang yang mengalami dispnea sering
kali tampak cemas dan dapat mengalami pendek napas (shortness of
breath atau SOB), suatu perasaan tidak mampu memperoleh cukup
udara / susah bernapas (Kozier, dkk, 2010).
dalam posisi tegak atau berdiri. Kesulitan atau ketidaknyamanan
pernapasan disebut dispnea. Orang yang mengalami dispnea sering
kali tampak cemas dan dapat mengalami pendek napas (shortness of
breath atau SOB), suatu perasaan tidak mampu memperoleh cukup
udara / susah bernapas (Kozier, dkk, 2010).
Orthopneu didefinisikan sebagai kondisi sesak yang muncul saat
posisi berbaring lurus dan biasanya muncul sebagai manifestasi lanjut pasien
dengan gagal jantung. Kondisi ini biasanya membaik dengan perubahan posisi
menjadi duduk tegak atau dengan menggunakan tambahan bantal saat tidur. Kondisi
ini timbul akibat cairan yang berasl dari sirkulasi splanknik dan ekstremitas
bawah memasuki sirkulasi utama pada saat posisi berbaring, sehingga terjadi
peningkatan tekanan pada pembuluh pulmoner. Manifestasi yang sering ditemui
akibat kondisi ini adalah batuk saat malam hari dimana keluhan dari gagal
jantung ini sering diabaikan. Meskipun orthopneu merupakan gejala yang spesifik
untuk pasien dengan gagal jantung, gejala ini juga dapat ditemui pada pasien
paru dengan obesitas abdominal ataupun asites
Orthopneu merupakan salah satu gejala pasien gagal jantung
khususnya pada gagal jantung yang secara dominan disebabkan oleh kelebihan dari
volume. Orthopnea dapat terlihat juga pada pasien dengan gagal jantung akut.
Pada gagal jantung akut, orthopnea terlihat pada saat dilakukan pemeriksaan
fisik dimana biasanya pasien terlihat gelisah saat terjadi perubahan posisi.
Timbulnya orthopnea pada pasien seringkali memberikan efek samping
psikologis pada pasien. Orthopnea seringkali menimbulkan insomnia. Insomnia
disertai keluhan psikis lainnya seperti anoreksia, lemas, dan cepat lelah yang
berlangsung lama dapat menimbulkan depresi. Timbulnya depresi pada pasien gagal
jantung mengakibatkan banyak efek samping diantaranya memperburuk luaran klinis
dari pasien, meningkatkan angka mortilitas, dan meningkatkan kebutuhan
perawatan bagi pasien sehingga pasien dengan gagal jantung harus dipantau setiap
keluhan yang ada dengan baik.
Ortopnea terjadi akibat
perubahan gaya gravitasi ketika pasien berbaring. Penambahan
volume darah
intratorakal ini menaikkan tekanan vena dan kapiler pulmonalis yang
kemudian meningkatkan
volume penutupan pulmonalis (pulmonary closing volume) serta
menurunkan kapasitas
vital. Faktor lain adalah elevasi diafragma yang membuat end-
expiratory lung volume
menjadi lebih rendah. Kombinasi end-expiratory lung volume dengan
peningkatan volume
penutupan (closing volume) mengakibatkan perubahan yang berarti
pada pertukaran gas
alveoli-kapiler.
Ortopnea
bukanlah penyakit, melainkan gejala khas dari suatu penyakit, dalam hal ini
penyakit gagal jantung
kiri yang biasa disebut ahli medis sebagai payah jantung. Tingkat keparahan
gejala ini biasanya
tergantung pada seberapa datar pasien mulai merasakan sesak napas. Biasanya
untuk mengukur
tingkat keparahannya, dokter sering menanyakan berapa banyak bantal yang
digunakan untuk
menghindari sesak napas di tempat tidur. Contohnya; ortopnea “tiga-bantal”
lebih buruk dari pada
ortopnea “dua-bantal” karena pasien punya toleransi yang lebih sedikit untuk
berbaring datar.
Dalam
mengenali ortopnea atau sesak nafas sebagai gejala gagal jantung, biasanya ada
pemeriksaan lain
untuk menegakkan diagnosanya. Kalau pasien baru pertama kali mengalami
ortopnea, maka dianggap
tidaklah berbahaya kecuali jika sudah sering mengalaminya.
Proses inspirasi dan ekskresi berlangsung sebanyak 15 sampai dengan 18 kali
setiap menit, tetapi frekuensi ini pada setiap orang berbeda-beda, karena
dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.
1. Umur
Untuk mengetahui pengaruh umur terhadap frekuensi pernapasan, Anda dapat
membandingkan pernapasan antara orang tua dengan anak- anak. Manakah frekuensi
pernapasannya yang lebih banyak, orang tua ataukah anak-anak? Lebih banyak pada
anak-anak, bukan? Mengapa demikian? Hal ini disebabkan anak-anak masih dalam
usia pertumbuhan sehingga banyak memerlukan energi. Oleh sebab itu,
kebutuhannya akan oksigen juga lebih banyak dibandingkan orang tua.
2. Jenis Kelamin
Coba Anda bandingkan pengaruh faktor ini pada teman-teman sekelas Anda.
Lebih cepat mana frekuensi pernapasan antara laki-laki dan perempuan? Mestinya
frekuensi pernapasan laki-laki lebih cepat daripada perempuan. Mengapa terjadi
demikian? Ingat kembali penjelasan di atas! Bahwa semakin banyak energi yang
dibutuhkan, berarti semakin banyak pula O2 yang diambil dari
udara. Hal ini terjadi karena laki-laki umumnya beraktivitas lebih banyak
daripada perempuan.
3. Suhu Tubuh
Jika dihubungkan dengan kebutuhan energi, ada hubungan antara pernapasan
dengan suhu tubuh, yaitu bahwa antara kebutuhan energi dengan suhu tubuh
berbanding lurus. Artinya semakin tinggi suhu tubuh, maka kebutuhan energi
semakin banyak pula sehingga kebutuhan O2 juga semakin banyak.
4. Posisi Tubuh
Posisi tubuh seseorang akan berpengaruh terhadap kebutuhan energinya. Coba
Anda bandingkan posisi antara orang yang berbaring dengan orang yang berdiri!
Manakah yang lebih banyak frekuensi antara keduanya? Tentunya orang yang
berdiri lebih banyak frekuensi pengambilan O2 karena otot yang
berkontraksi lebih banyak sehingga memerlukan energi yang lebih banyak pula.
5. Kegiatan Tubuh
Untuk
membuktikan pengaruh faktor ini, Anda dapat melakukan perbandingkan antara
orang yang bekerja dengan orang yang tidak bekerja. Mana yang lebih banyak
frekuensi bernapasnya? Jika diperhatikan, orang yang melakukan aktivitas kerja
membutuhkan energi. Berarti semakin berat kerjanya maka semakin banyak
kebutuhan energinya, sehingga frekuensi pernapasannya semakin cepat.
Daftar
Pustaka
1. Libby P, Bonow RO, Mann DL, Zipes
DP, editors. Braunwald’s Heart Disease a Textbook of Cardiovascular Medicine
Volume 1. 8th ed. Philadeplhia: Saunders Elsevier; 2008. p 561
2. McMurray JJV, Adamopoulos S,
Anker SD, Auricchio A, Bohm M, Dickstein K, et al. ESC Guidelines for the
Diagnosis and Treatment of Acute and Chronic Heart Failure 2012. European Heart
Journal. 2012: 33. 1787-847
Tidak ada komentar:
Posting Komentar