Senin, 19 Maret 2018

MAKALAH PERUBAHAN POLA NAFAS ORTOPNEA


MAKALAH PERUBAHAN POLA NAFAS
“ORTOPNEA”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keterampilan Dasar Kebidanan Lanjut

Oleh :
Kelompok 1
Kebidanan A.14.2


Dewi Nurinda              17150047
Irnawati                       17150061
Ni Made Dwi Ruliana 17150049
Wijianti                       17150064
Gita tilana                   17150059
Rossalindah  kondo    171500
Denil Shintiya             17150078

PROGRAM STUDI D-3 KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI
YOGYAKARTA
TAHUN AJARAN
20017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya. Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

                                                                                        Yogyakarta,18 Maret 2018


Penyusun


DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………i
Daftar Isi……………………………………………………………………….ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang………………………………………………….….……...4
1.2    Tujuan penulisan..........................................................................................4
1.3  Manfaat penulisan….....……………………………………………….......4
BAB II PEMBAHASAN
2.1. perubahan pola pernapasan ortopnea..........................................................5
2.2. penyebab pernapasan ortopnea...................................................................5
2.4. Faktor yang mempengaruhi pernapasan ....................................................6
BAB III PENUTUP
3.1 Daftar Pustaka………………………………………………………….....7


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang

Awalnya, sesak napas hanya terasa selama seseorang melakukan kegiatan fisik yang berat, seperti olahraga karena pada saat itu tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga jantung harus berdenyut lebih cepat. Sementara jantung yang lemah tidak bisa melakukannya.
Tahap selanjutnya, sesak napas terasa bahkan pada saat beristirahat. Salah satunya pada saat tubuh berbaring mendatar. Inilah yang kemudian dikenal sebagai ortopnea.
Berasal dari bahasa Yunani, yaitu orto yang artinya lurus, dan pneuma yang artinya napas, ortopnea pada umumnya terjadi dikarenakan adanya perubahan gaya gravitasi ketika pasien mengambil posisi dari duduk menjadi berbaring/datar. Posisi ini menyebabkan meningkatnya aliran darah ke sirkulasi paru serta menurunnya  jumlah udara yang dapat dikeluarkan dari paru-paru (kapasitas vital).


1.2  Tujuan penulisan
Untuk mengetahui pada perubahan pola pernapasan ortopnea


1.3  Manfaat penulisan
Agar pembaca dapat mengetahui bagaimana perubahan pola pernapasan ortopnea.













BAB II
PEMBAHASAN

1.      perubahan pola pernapasan ortopnea
Ortopnea adalah ketidakmampuan untuk bernapas kecuali
dalam posisi tegak atau berdiri. Kesulitan atau ketidaknyamanan
pernapasan disebut dispnea. Orang yang mengalami dispnea sering
kali tampak cemas dan dapat mengalami pendek napas (shortness of
breath atau SOB), suatu perasaan tidak mampu memperoleh cukup
udara / susah bernapas (Kozier, dkk, 2010).
Orthopneu didefinisikan sebagai kondisi sesak yang muncul saat posisi berbaring lurus dan biasanya muncul sebagai manifestasi lanjut pasien dengan gagal jantung. Kondisi ini biasanya membaik dengan perubahan posisi menjadi duduk tegak atau dengan menggunakan tambahan bantal saat tidur. Kondisi ini timbul akibat cairan yang berasl dari sirkulasi splanknik dan ekstremitas bawah memasuki sirkulasi utama pada saat posisi berbaring, sehingga terjadi peningkatan tekanan pada pembuluh pulmoner. Manifestasi yang sering ditemui akibat kondisi ini adalah batuk saat malam hari dimana keluhan dari gagal jantung ini sering diabaikan. Meskipun orthopneu merupakan gejala yang spesifik untuk pasien dengan gagal jantung, gejala ini juga dapat ditemui pada pasien paru dengan obesitas abdominal ataupun asites
Orthopneu merupakan salah satu gejala pasien gagal jantung khususnya pada gagal jantung yang secara dominan disebabkan oleh kelebihan dari volume. Orthopnea dapat terlihat juga pada pasien dengan gagal jantung akut. Pada gagal jantung akut, orthopnea terlihat pada saat dilakukan pemeriksaan fisik dimana biasanya pasien terlihat gelisah saat terjadi perubahan posisi.
Timbulnya orthopnea pada pasien seringkali memberikan efek samping psikologis pada pasien. Orthopnea seringkali menimbulkan insomnia. Insomnia disertai keluhan psikis lainnya seperti anoreksia, lemas, dan cepat lelah yang berlangsung lama dapat menimbulkan depresi. Timbulnya depresi pada pasien gagal jantung mengakibatkan banyak efek samping diantaranya memperburuk luaran klinis dari pasien, meningkatkan angka mortilitas, dan meningkatkan kebutuhan perawatan bagi pasien sehingga pasien dengan gagal jantung harus dipantau setiap keluhan yang ada dengan baik.
Ortopnea terjadi akibat perubahan gaya gravitasi ketika pasien berbaring. Penambahan
volume darah intratorakal ini menaikkan tekanan vena dan kapiler pulmonalis yang
kemudian meningkatkan volume penutupan pulmonalis (pulmonary closing volume) serta

menurunkan kapasitas vital. Faktor lain adalah elevasi diafragma yang membuat end-
expiratory lung volume menjadi lebih rendah. Kombinasi end-expiratory lung volume dengan
peningkatan volume penutupan (closing volume) mengakibatkan perubahan yang berarti
pada pertukaran gas alveoli-kapiler.

Ortopnea bukanlah penyakit, melainkan gejala khas dari suatu penyakit, dalam hal ini penyakit gagal jantung kiri yang biasa disebut ahli medis sebagai payah jantung. Tingkat keparahan gejala ini biasanya tergantung pada seberapa datar pasien mulai merasakan sesak napas. Biasanya untuk mengukur tingkat keparahannya, dokter sering menanyakan berapa banyak bantal yang digunakan untuk menghindari sesak napas di tempat tidur. Contohnya; ortopnea “tiga-bantal” lebih buruk dari pada ortopnea “dua-bantal” karena pasien punya toleransi yang lebih sedikit untuk berbaring datar.
Dalam mengenali ortopnea atau sesak nafas sebagai gejala gagal jantung, biasanya ada pemeriksaan lain untuk menegakkan diagnosanya. Kalau pasien baru pertama kali mengalami ortopnea, maka dianggap tidaklah berbahaya kecuali jika sudah sering mengalaminya.


Proses inspirasi dan ekskresi berlangsung sebanyak 15 sampai dengan 18 kali setiap menit, tetapi frekuensi ini pada setiap orang berbeda-beda, karena dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.

1. Umur
Untuk mengetahui pengaruh umur terhadap frekuensi pernapasan, Anda dapat membandingkan pernapasan antara orang tua dengan anak- anak. Manakah frekuensi pernapasannya yang lebih banyak, orang tua ataukah anak-anak? Lebih banyak pada anak-anak, bukan? Mengapa demikian? Hal ini disebabkan anak-anak masih dalam usia pertumbuhan sehingga banyak memerlukan energi. Oleh sebab itu, kebutuhannya akan oksigen juga lebih banyak dibandingkan orang tua.

2. Jenis Kelamin
Coba Anda bandingkan pengaruh faktor ini pada teman-teman sekelas Anda. Lebih cepat mana frekuensi pernapasan antara laki-laki dan perempuan? Mestinya frekuensi pernapasan laki-laki lebih cepat daripada perempuan. Mengapa terjadi demikian? Ingat kembali penjelasan di atas! Bahwa semakin banyak energi yang dibutuhkan, berarti semakin banyak pula O2 yang diambil dari udara. Hal ini terjadi karena laki-laki umumnya beraktivitas lebih banyak daripada perempuan.

3. Suhu Tubuh
Jika dihubungkan dengan kebutuhan energi, ada hubungan antara pernapasan dengan suhu tubuh, yaitu bahwa antara kebutuhan energi dengan suhu tubuh berbanding lurus. Artinya semakin tinggi suhu tubuh, maka kebutuhan energi semakin banyak pula sehingga kebutuhan O2 juga semakin banyak.

4. Posisi Tubuh
Posisi tubuh seseorang akan berpengaruh terhadap kebutuhan energinya. Coba Anda bandingkan posisi antara orang yang berbaring dengan orang yang berdiri! Manakah yang lebih banyak frekuensi antara keduanya? Tentunya orang yang berdiri lebih banyak frekuensi pengambilan O2 karena otot yang berkontraksi lebih banyak sehingga memerlukan energi yang lebih banyak pula.

5. Kegiatan Tubuh

Untuk membuktikan pengaruh faktor ini, Anda dapat melakukan perbandingkan antara orang yang bekerja dengan orang yang tidak bekerja. Mana yang lebih banyak frekuensi bernapasnya? Jika diperhatikan, orang yang melakukan aktivitas kerja membutuhkan energi. Berarti semakin berat kerjanya maka semakin banyak kebutuhan energinya, sehingga frekuensi pernapasannya semakin cepat.


Daftar Pustaka

1.      Libby P, Bonow RO, Mann DL, Zipes DP, editors. Braunwald’s Heart Disease a Textbook of Cardiovascular Medicine Volume 1. 8th ed. Philadeplhia: Saunders Elsevier; 2008. p 561
2.      McMurray JJV, Adamopoulos S, Anker SD, Auricchio A, Bohm M, Dickstein K, et al. ESC Guidelines for the Diagnosis and Treatment of Acute and Chronic Heart Failure 2012. European Heart Journal. 2012: 33. 1787-847



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

puisi pancasila tetap abadi

[PUISI] Pancasila Tetap Abadi Sudah cukup banyak nyawa yang kita korbankan Sudah cukup banyak tangis yang kita dengarkan Sudah ...